EKSPEKTASI INFLASI DI MASA KRISIS

  • Gantiah Wuryandani
  • Reza Anglingkusumo

Abstract

Persepsi pelaku ekonomi terhadap perkembangan perekonomian termasuk inflasi cenderung berubah sepanjang krisis moneter. Sehingga proses pembentukan ekpektasi inflasi pelaku ekonomi juga berbeda antara sebelum dan sepanjang krisis . Oleh karena itu, penelitian mengenai perubahan perilaku  kspektasi inflasi masyarakat di masa krisis, perlu menjadi agenda taktis dalam rangka mengupayakan efektifitas dan efisiensi pengendalian moneter. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh suatu benchmark untuk mengukur ekspektasi inflasi dimasa mendatang sebagai arahan bagi pelaksanaan kebijakan moneter.

Hasil penelitian membuktikan adanya “expectation loop” dalam pembentukan laju inflasi dan adanya proses backward maupun forward looking oleh pelaku ekonomi dalam membentuk ekspektasi inflasi dimasa krisis. Metodologi yang digunakan adalah estimasi liniear sederhana untuk memperoleh taksiran ekspektasi dari masing-masing variabel pembentuk ekspektasi inflasi. Variabel-variabel tersebut adalah: (1) pengaruh laju inflasi historis terhadap tekanan inflasi yang sedang  berlangsung (inertia), (2) kredibilitas kebijakan disinflasi pemerintah, dan (3) ekspektasi kurs nilai tukar Rp/ USD secara historis, sebagai komponen-komponen pembentuk ekspektasi inflasi backward looking. Sedangkan ekspektasi inflasi forward looking ditentukan oleh variabel yield spread dan forward rate Rp/USD. Taksiran yang diperoleh dengan estimasi linear tersebut selanjutnya di estimasi ulang de gan menggunakan neural network, untuk menangkap dampak bounded rationality para pelaku pasar dalam pembentukan ekspektasi inflasi di masa krisis.

Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa dimasa sebelum krisis terdapat ekspektasi inflasi yang mendekati inflasi aktual. Variabel kredibilitas kebijakan disinflasi pemerintah merupakan determinan utama dalam pembentukan ekspektasi inflasi, disusul kemudian oleh ekspektasi kurs nilai tukar Rp/USD dan laju inflasi secara historis. Dari hasil simulasi ekspektasi inflasi dimasa krisis terlihat bahwa dalam bulan-bulan tertentu terdapat indikasi deviasi yang cukup signifikan yang menunjukkan adanya ketidakpastian yang sangat tinggi. Ketidakpastian tersebut terutama bersumber dari noise, seperti fenomena panic buying di bulan Januari 1998 dan gejolak yang tidak terduga pada harga Sembako di bulan Juli 1998. Hal ini selanjutnya menunjukkan bahwa tekanan inflasi karena meningkatnya gejolak sosial politik di bulan April dan Mei 1998 telah sepenuhnya diantisipasi oleh pelaku ekonomi. Demikian pula dengan gejolak harga Sembako di bulan Agustus dan September 1998.

Dari berbagai pengujian dalam paper ini disarankan otoritas moneter perlu memilah-milah faktor-faktor pembentuk inflasi dari sisi moneter maupun non-moneter.  Disamping itu perlu pula ditetapkan target band inflasi moneter berikut leading indicator pemantaunya, sebagai suatu langkah untuk mengendalikan inflasi secara preemptive oleh otoritas moneter. Dalam rangka pengendalian laju inflasi yang lebih disebabkan oleh tekanan struktural dan noise, otoritas moneter perlu melakukan koordinasi dengan departemen terkait.

Downloads

Download data is not yet available.

References

King, Marvyn, Do Inflation Targets Work?, Address to the Center for Economic Policy Research.

Griliches, Zvi, Distribution Lags : A Survey, Econometrica, Vo. 35, No. 1, January 1967

Bomfim, A. dan Brayton, F., Long Run Inflation Expectation and Monetary Policy, BIS. Dillen, H. dan Hopkins, E., Forward Interest Rates and Inflation Expectations: The Role of Regime Shift Premia and Monetary Policy,BIS.

H unt, B., Conway, P., dan Scott, A., Exchange Rate Effects and Inflation Targeting in A Small Open economy, a Stochastic Analysis Using FPS, BIS.

Ireland, Peter N., Long Term Interest Rates and Inflation: A Fisherian Approach, FRB of Richmond.

Kandel, S. , Ofer, A. dan Sarig, O., Real Interest Rates and Inflation: An Ex Ante Empirical Analysis, The Journal Of Finance, Vol 11, No. 1, March 1986.

De Brouwer, G. dan Ericsson, N., Modelling Inflation in Australia, RBA.

McKibbin, W., Which Monetary Policy Regime for Australia, RBA.

Cecchetti, S., Distingushing Theories of The Monetary Transmission Mechanism, FRB of St. Louis.

Cecchetti, S., Inflation Indicators and Inflation Policy, Ohio State Univ.

Dwyer, J. dan Lam, R., Explaining Import Price Inflation: A Recent History of Second Stage Pass Through, RBA.

Gruen, D. dan Dwyer, J., Are Terms of Trade Rises Inflationary?, RBA.

Hakim, L. dan Solikin., Model Inflasi dengan Pendekatan Neural Network, Kertas Keja Staff, BI.

Lin, W., Impulse Response Function for Conditional Volatility in GARCH Models, Journal of Business and Economic Statistics, January 1997.

O’Connor , M. Hill, T., Neural Network Models for Time Series Forecast, Institute for Operation Research and Management Sciences.

Romalis, J., Gruen, D. dan Chandra, N., The Lags of Monetary Policy, RBA.

Santoso, W., Karakteristik Inflasi di Indonesia, UREM, BI.

Haslag, J., Monetary Aggregates and The Rate of Inflation, FRB of Dallas.

Simatupang, P., Diagnosa Penyebab Inflasi Dari Sisi Sektor Riil: Tinjauan Eksploratif, IPB.
Published
2003-10-11
How to Cite
Wuryandani, G., & Anglingkusumo, R. (2003). EKSPEKTASI INFLASI DI MASA KRISIS. Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan, 1(2), 93-126. https://doi.org/10.21098/bemp.v1i2.163
Section
Articles